Alasan Pengguna Android Pindah iPhone


Firma riset Consumer Intelligence Research Partners (CIRP) merilis laporan terbarunya mengenai jumlah pengguna smartphone  Android yang berganti ke iPhone. Laporan ini berdasar riset selama kuartal kedua 2017.

Dalam laporannya, CIRP seperti dilansir KompasTekno dari MakeMac, Kamis (27/7/2017), jumlah mantan pengguna smartphone Android yang kini menggunakan iPhone di AS mengalami kenaikan menjadi 17 persen di kuartal kedua 2017. Di periode yang sama tahun lalu, jumlahnya tercatat sebanyak 14 persen.

Terus naiknya jumlah mantan pengguna Android yang menggunakan iPhone dinilai sangat penting bagi kesuksesan iPhone generasi berikutnya.

Ditambah dengan panjangnya siklus upgrade dan tumbuhnya persentase jumlah pengguna iPhone 7 dan iPhone 7 Plus, diharapkan pengguna iPhone bakal semakin meningkatkan.

Firma riset yang sama juga merilis laporan mengenai statistik penjualan iPhone berdasarkan modelnya. iPhone 7 dan iPhone 7 Plus tercatat sebagai model yang paling laris di AS sepanjang kuartal kedua 2017.

iPhone 7 dan iPhone 7 Plus berhasil menyumbang total penjualan iPhone sebanyak 81 persen. Secara terperinci, penjualan iPhone 7 tercatat mencapai 47 persen.

Sedangkan 34 persen sisanya dipegang iPhone 7 Plus. Kesuksesan iPhone dalam merebut hati mantan pengguna Android di AS tentunya tidak lepas dari beragam penawaran diskon besar dan juga hadirnya pilihan kapasitas penyimpanan yang lebih besar.

BACA : HARGA DAN SPESIFIKASI IPHONE 7

Faktor terakhir diklaim menjadi pendorong naiknya harga rata-rata iPhone.

Jumlah mantan pengguna Android bukan tanpa kemungkinan bakal terus bertambah tahun ini. Mengingat Apple sedang bersiap untuk meluncurkan iPhone 8 pada paruh kedua 2017. Kabarnya, tiga model iPhone baru sudah masuk produksi percobaan dalam jumlah terbatas. informasi ini dihgimpun dari MakeMac.comAndroid merupakan sistem operasi terbesar saat ini dengan 1,4 miliar pengguna. Ini berkat sifat keterbukaannya alias open source, sehingga fleksibel digunakan berbagai vendor perangkat mobile.

Meski demikian, ada dampak buruk dari keterbukaan Android, yakni keamanan yang tak terstandarisasi. Tiap ponsel Android memiliki jadwal update berbeda-beda, kadang rutin kadang tidak.

Alhasil, banyak celah keamanan yang ditemukan yang berpotensi untuk dibobol. Penyebaran malware menjadi masif beberapa tahun terakhir. Lantas, benarkah Android benar-benar lebih mudah dibobol alias diretas (di-hack) ketimbang sistem operasi mobile lain?

Menurut Director of Android Security, Adrian Ludwig, ada kesalahan persepsi yang menyebar di masyarakat luas, yang semata-mata merujuk pada banyaknya malware bermunculan di sistem operasi Android.

Padahal, ia mengklaim Android telah ditingkatkan keamanannya secara signifikan dari masa ke masa.

“Dari kriptografi dan sandboxing yang kami tingkatkan, eksploitasi OS Android semakin sulit,” kata dia, sebagaimana dilaporkan DigitalTrends dan dihimpun KompasTekno, Senin (8/5/2017).

Sederhananya, Ludwig mengatakan bahwa ponsel Android yang sering di-update dijamin aman. Masalahnya, otoritas untuk pembaruan sistem operasi itu ada di tangan vendor.

Makin lawas, makin bahaya

Menurut tim Android, setengah dari total penggunanya tak menerima update Android selama satu tahun. Hal ini berisiko, sebab tiap pembaruan memberikan amunisi baru pada ponsel agar tak gampang dieksploitasi.

Terkhusus untuk Android versi lama, ada banyak celah yang muncul. Kebanyakan vendor tak menyuplai update untuk perangkat mereka. Saat ini lebih dari 800 celah yang dikenali,” kata CEO AV-Test, Maik Morgenstern. AV-Test adalah organisasi yang memberikan peringkat untuk antivirus.

Jika dijabarkan, pada April 2017, hanya 4,9 persen dari ponsel Android yang sudah memakai versi Nougat 7.0 atau 7.1 teranyar.

BACA : SMARTPHONE ANDROID NOUGAT LEBIH CANGGIH

Jumlah itu tak bisa dibilang besar. Sementara itu, versi yang lebih lawas yakni Marshmallow 6.0 digunakan 31,2 persen. Sebanyak 31 persen masih betah dengan versi Lollipop 5.0 dan 5.1. Sisanya menggunakan Android KitKat 4.4 hingga yang lebih lawas.

"84 persen ponsel Android tak diperbarui. Artinya, hampir semua perangkat Android berisiko,” kata Vice President dari divisi Platform Research and Exploitation di Zimperium, Joshua J. Drake.

Zimperium merupakan perusahaan keamanan mobile. Drake sendiri menemukan celah bernama “Stagefright” di Android pada 2015 lalu. Celah itu memberikan akses pada peretas untuk mengontrol perangkat Android dari kode berbahaya pada file audio dan video.

Hampir 95 persen perangkat Android berisiko diserang Stagefright kala itu. Namun, setelah diperbaiki oleh tim Android dan dirilis sistem operasi baru, kini tak sampai 1 persen yang masih berisiko atas Stagefright.

iOS lebih aman?

Masalah fragmentasi pada Android karena keterbukaannya memang sulit teratasi. Mendorong vendor untuk menyediakan pembaruan sistem operasi secara berkala nyatanya belum efektif.

Hal ini yang kemudian membuat netizen menobatkan iOS sebagai sistem operasi yang aman, sebab bersifat tertutup hanya untuk perangkat buatan Apple. Hal ini kemudian dibantah Drake.

"Ada kesan bahwa keamanan iOS lebih baik dari Android. Tapi ini tak semata-mata benar juga,” kata dia.

Drake menjelaskan bahwa keterbukaan Android membuat para peneliti lebih mudah mengidentifikasi celah dan memberikan solusi. Sementara itu, iOS yang lebih tertutup membuat peneliti sulit mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Morgenstern sepakat dengan poin tersebut. Meski demikian, Morgenstern mengindikasikan Android lebih berisiko karena prinsipnya benar-benar berbeda dengan iOS.

“Pengguna Android mudah menginstal aplikasi dari sumber mana saja. Fakta ini membuat aplikasi berbahaya dengan mudah masuk ke perangkat. iOS lebih ketat dalam hal ini, sehingga risikonya juga semestinya lebih kecil,” kata Morgenstern.

Sekali lagi, salah satu cara untuk meningkatkan keamanan Android adalah rajin memperbaruinya. Namun, hingga kini belum jelas kapan semua perangkat Android disematkan versi Nougat.

“Kita semua masih dalam risiko hingga update menjangkau semua perangkat Android,” ujar Morgenstern.Ini A

Alasan pengguna Android beralih menggunakan iPhone, kenaa banyak pengguna android pindah iphone, lasan lebih memilih iphone di banding android android vs iphone, iphone lebih baik di banding android?

Dibanding iOS, Android Lebih Rentan Diserang "Hacker"


Reputasi Android sebagai OS yang kurang aman masih belum berubah di tahun 2016. Dari semua OS, baik itu desktop atau mobile, produk bikinan Google itu dinobatkan sebagai yang paling rawan mengalami serangan malware atau program jahat sepanjang tahun 2016 lalu.

Berdasarkan hasil analisis dari perusahaan keamanan CVE Details, Android mendapat gelar tersebut di tahun 2016 setelah ditemukan setidaknya 523 masalah keamanan.

Sementara iOS buatan Apple cenderung langka masalah. CVE Details hanya menemukan 161 masalah saja di tahun 2016, jauh lebih sedikit dibanding Android.

Sebagaimana dilansir KompasTekno dari Phone Arena, Senin (9/1/2017), masalah keamanan tersebut merupakan lubang atau celah yang biasanya bisa dieksploitasi oleh peretas.

Jika berhasil mengeksploitasi masalah tersebut, peretas akan bisa masuk ke ponsel milik pengguna dan mengambil berbagai informasi. Misalnya, menyalin nomor kontak, membaca pesan singkat yang ada di dalamnya, mengecek panggilan, menyalin nomor IMEI, password, dan akses-akses lainnya.

Selain membeberkan soal masalah keamanan di Andoid dan iOS, data dari CVE Details juga memperlihatkan bagaimana kondisi sistem operasi desktop sepanjang 2016.

Pada sisi ini, yang paling bermasalah adalah sistem operasi Debian Linux dengan catatan 319 celah keamanan. Berikutnya terdapat Ubuntu Linux dengan 278 celah, Linux Kernel dengan 217 celah, dan Mac OS X dengan 215 celah.

Sedangkan Windows 10 terhitung lebih aman dibanding Mac OS X, yakni dengan catatan 172 celah saja. Begitu pula dengan Windows 8.1 yang hanya mencacat 154 celah.

iPhone Lebih Stabil dari Android, Benarkah?Benarkah iPhone (iOS) lebih stabil dibandingkan smartphone Android? Ternyata tak selalu demikian. Setidaknya, begitulah sebagian kesimpulan yang diambil oleh Blanco Technologies Group dalam laporan terbarunya.

Firma mobile diagnostics itu menganalisis ponsel-ponsel yang dilaporkan mengalami kerusakan oleh pemiliknya di wilayah Amerika, Asia, dan Eropa sepanjang kuartal keempat 2016.

Sepanjang periode tersebut, ditemukan bahwa aplikasi di iOS ternyata dua kali lebih sering mengalami crash (57 persen) dibandingkan di platform Android (22 persen).

Blanco menyebutkan, ada sejumlah aplikasi yang tercatat paling sering mengalami crash, di kedua sistem operasi itu, di antaranya Facebook, Snapchat, dan Instagram.

Menurut Blanco, aplikasi crash adalah masalah yang paling sering dikeluhkan oleh pengguna iPhone pada kuartal keempat 2016. Setelah itu, menyusul masalah overhearting (kepanasan) dan headphone yang tak berfungsi.

Sebagian masalah di atas disinyalir berasal dari update sistem operasi iOS dari Apple, misalnya iOS 10.2 pada Desember 2016, yang sering kali mengandung bug.

Adapun pengguna Android lebih sering bermasalah dengan bug di kamera serta masalah terkait USB dan pengisian baterai

BACA : DI JUAL MAHAL, IPHONE KOK BISA LAKU?

Jadilah pembaca yang smart dengan berkomentar secara santun. Tindakan pencemaran atau sesuatu yang melanggar dapat dikenai pelanggaran UU ITE.